<a target="_blank" href="https://secure.instaforex.com/en/open-account.aspx/?x=BAAP"> <span style="text-decoration: none">Forex broker</span></a>

Uang Sedang Mencari Majikan Baru


Menurut pendapat saya pribadi, sejak krisis tahun 2008 hingga sekarang, memang mengherankan melihat tingkat recovery Amerika, dalam hal market confidence, begitu cepat. Padahal, kalau kita lihat, AS dan Eropa itu tidak melakukan perubahan fundamental secara besar-besaran sejak 2008. Yang terjadi adalah Amerika menerapkan kebijakan QE (quantitative easing) kebijakan moneter dari bank sentral yang bertujuan menstimulasi perekonomian mereka, dengan cara membeli aset-aset perbankan. AS berharap dengan kebijakan moneter tersebut pasar akan banjir likuiditas sehingga masyarakat bisa lebih banyak mengeluarkan uang. Namun, yang terjadi, kelebihan likuditas tersebut justru kebanyakan lari ke Asia, karena Eropa dan Amerika tidak kunjung membaik prospeknya.
Sekarang kita lihat Amerika dan Eropa masih tetap saja bermasalah. Misalnya di Yunani dan Spanyol. Sekarang menyebar juga ke Perancis, Italia, dan Polandia. Eropa sebenarnya menciptakan masalah mereka sendiri.  Anggota yang masuk Zona Euro adalah negara-negara dengan kondisi ekonomi yang tidak setara, tapi dipaksa dijadikan satu. Tiap kali ada masalah, yang menalangi adalah Jerman dan Perancis. Kalau di Amerika, kita melihat persoalan fundamentalnya adalah krisis kepercayaan. Kalau orang tidak nyaman dengan keadaan ekonominya sendiri, tingkat penganggurannya tinggi, maka orang tidak akan membelanjakan uangnya. Uang banjir, tapi mereka lebih suka wait and see. Akibatnya, tingkat tabungan orang Amerika semakin meningkat. Dengan kondisi ini, AS harus menggenjot pertumbuhan dengan berutang. Utang Amerika sangat besar.  Saya lihat taktik AS itu begini: China selama ini manipulasi nilai kursnya supaya barang-barangnya bisa dieskpor. Sementara, Amerika menganut sistem kurs mengambang dan tidak mungkin mematok harga. Apa yang dilakukan Amerika? Melemahkan kurs dengan quantitative easing itu. Jadi, China memang selalu marah pada AS dan meminta AS agar tidak melakukan quantitative easing. Tapi, AS harus melakukan itu supaya ada keseimbangan. Pagu utang Amerika sudah mentok dan semua orang sudah mengetahui persoalan ini. Lembaga pemeringkat sebetulnya sebelumnya sudah memberikan rating kredit AAA (
Saat ini ada juga perusahaan AS yang masih memiliki rating triple A, sebagai contoh Apple. Kalau tidak salah, cash balance pemerintah AS itu US$76 miliar, sedangkan Apple US$79 miliar. Lalu, penjualan Apple juga keluar negeri. Jadi, tidak heran jika Apple dapat AAA) dengan negative outlook. Mereka sudah melihat, ini tinggal masalah waktu untuk menurunkan rating AS dalam 6-12 bulan ke depan. Tapi, ternyata Standard & Poors bergerak sangat cepat. Itu menambah volatilitas market yang memang sudah lemah. Market makin lemah karena persoalan di Eropa tidak kunjung selesai. Yunani ditalangi, namun tetap nombok dan lalu diikuti krisis AS. pasar modal filosofinya kan buying the future. Masalahnya, the future is not there. Jadi, investor sudah price in, dengan harapan ada pertumbuhan di sana, tapi ternyata tidak ada.Yang saya takutkan, AS akan menjadi seperti Jepang. Dulu jepang krisis dan pertumbuhannya di situ-situ saja. Yang saya khawatirkan, kondisi krisis ini akan memburuk menjadi double dip. Itu akan terjadi kalau ada krisis besar lagi, misalnya bank Eropa ambruk.
Kalau di AS, semenjak muncul krisis Lehman Brothers, hampir semua bank sudah direkapitalisasi. Jadi, neracanya sudah relatif bersih. Di Eropa belum. Dari Zaman dahulu belum transparan, mereka diam-diam, sedikit-sedikit. Kalau sampai ada bank Eropa menghadapi masalah seperti ini, maka kejadiannya akan lebih parah daripada kasus serupa di Amerika.
Jadi itu harus diperhatikan, apakah akan ada event besar lagi di Eropa. Mereka seperti bola panas karena tidak terlalu transparan. Saya dengar Bank Sentral Eropa telah melakukan stress test dan ada delapan bank yang dinyatakan gagal. Kalau sampai ada yang kolaps, maka ekonomi global akan jatuh lebih dalam lagi. Indonesia ? Kalau dilihat secara fundamental, Indonesia masih oke karena rasio pada PDB masih oke. Current account balance kita semua masih sehat. Jadi, saya rasa, investor bisa melihat, di dunia ini negara mana yang masih akan berkembang. AS akan tetap berada di bawah dalam waktu yang lama. Eropa kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Asia itu akan tumbuh melalui dua penggerak utama: China dan India. Jadi semua uang di dunia kini sedang mencari Majikan yang baru.


(Admin InstaSurabaya (dot)COM menerima tulisan tentang financial, sertakan tulisan anda beserta foto dan data anda ke alamat E-mail kami : support@instasurabaya.com)